Banyuwangi, we will come and come

11 Jan 2014

Resort and Spa

Tak banyak yang mengetahui apa saja yang dimiliki oleh kabupaten Banyuwangi. Beberapa wistawan yang mengunjungi selalu mengetahui hanya kawah Ijen sajalah yang menjadi tujuan utama perjalanan mereka. Bahkan perjalanan mereka acapkali selalu hanya mengunjungi satu tempat ini saja dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Pulau Dewata, atau langsung kembali ke asalnya langsung.
Hamparan kabupaten Banyuwangi yang terletak di tepi pantai tertimur pulau jawa ini ternyata menyimpan banyak potensi tersembunyi untuk wisatawan.

Perjalanan di sekitaran kota Banyuwangi yang selama ini hanya diperuntukkan untuk menuju satu atau dua lokasi saja saat ini mulai bertambah. Ternyata banyaknya potensi tujuan wisata ini masih belum banyak diketahui oleh wisatawan yang bahkan tidak hanya internasional, malah nasional.

First Day

First Day

Banyuwangi sejak dibawahi oleh Bapak Bupati Abdullah Azwar Anas mulai mengangkat potensi potensi terpendam yang selama ini belum nampak dengan baik. Perjalanan saya hari ini cukup membuka mata saya yang selama ini hanya tertuju ke seberang Banyuwangi yaitu Pulau Dewata.

Sebenarnya banyak hal dan lokasi wisata yang sekarang sudah bisa dikunjungi di Banyuwangi, mulai dari kunjungan ke Pasar Kalibaru dimana para pengerajin peralatan rumah tangga berbahan baku alumunium, tempat penginapan dan spa yang selalu penuh turis asing berkewarganegaraan Belanda di Margo Utomo Hill View Cottages, hotel bintang 5 yang menawarkan konsep eco green, mengunjungi desa Osing yang paguyuban warga prianya atau para Thulik Kemiren yang mempunyai keahlian menyangrai kopi hingga wisata minum kopi di Wedang Kopi Banyuwangi yang saat ini masih pra soft opening milik Dinas Perindustrian dan Perdagangan Banyuwangi.

Perjalanan blogger dari Surabaya diawali dari stasiun Gubeng, perjalanan menggunakan kereta api dari jam 22.00 hingga 04.15 dini hari ini diakhiri saat kami turun di stasiun Karang Asem. Meski diiringin hujan yang lumayan deras, namun semangat petualang blogger tak surut. Bus bandara yang sudah dipersiapkan distasiun mengantarkan blogger ketempat penginapan yang akan kami tinggali selama 2 hari kedepan, yaitu hotel Mahkota di Plengkung.

Kerajinan Aluminium

Suasana di hotel yang bernuansa ethnic ini sangat menyenangkan untuk ditinggali, walau saya tidak bisa berlama lama di tempat nyaman ini, karena jam 05.30 aku harus melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya, yaitu ketempat pengrajin dandang, wajan serta perabotan rumah tangga lainnya berbahan baku alumunium di Kalibaru. setelah memakan waktu 3 jam, disini kamu menyaksikan para pengerajin tradisional membuat peralatan alumunium dengan cara dipukuli.

Margo Utomo

Perjalanan kami pun berlanjut ke Margo Utomo Hill View Cottages Hotel yang berjarak hanya sekitar 30 menit dari lokasi kerajinan tersebut. Disini kami diperkenalkan pada konsep hotel yang memanfaatkan produk sekitarnya untuk memenuhi kebutuhannya. Antara lain produk susu sapi perah yang diternakkan disini. Manager peternakan, Pak Sudi Hariyono mengguide kami tentang peternakan yang berada dilingkungan Margo Utomo, mulai dari proses peternakan sampai susu diperoleh dari proses pemerahan yang menggunakan mesin.

Hasil alam lain juga dihasilkan oleh Margo Utomo yang memiliki lokasi perkebunan selebar 9 hektar ini. Berbahai macam tanaman menghasilkan ditanam disini, mulai dari kayu manis, vanili, kelapa, lada dan sebagainya. Walau ada juga tanaman yang tidak dipetik hasilnya seperti salak dan beberapa tanaman lain hanya digunakan sebagai tanaman penunjang saja. Kami mempercepat makan siang disini, sebelum kami melanjutkan perjalanan kami ke lokasi berikutnya.

blogdetik.com

Pendopo Kabupaten Banyuwangi adalah lokasi tujuan kami siang ini. Sekitaran jam 12.40 kami tiba disini. Setelah saya sholat duhur, saya pun berkeliling disekitaran pendopo yang dibangun hotel berstandar bintang 5 yang berkonsep Eco Green, dimana cahaya matahari merupakan alat penerangan utama disetiap kamar kamar yang disediakan. Dipendopo Kabupaten ini kami mendapatkan banyak penjelasan oleh mas Ardian Fanani yang dulunya adalah pemenang pria kontes Jebeng Thulik tentang sejarah Banyuwangi yang konon hari jadinya tanggal 18 Desember 1771.

Perjalanan berikutnya adalah kekampung Osing, dimana kami dapat menyaksikan para pengerajin kopi yang dikelola oleh Paguyuban Tholik Kemiren mengolah kopi mulai dari proses sangrai menuju kopi tersebut selesai diproses berupa bubuk hingga proses penyeduhan yang baik dijelaskan para saudara saudara Thulik didesa Osing ini.

Menu wajib perjalanan kami ini pun berlanjut ke tempat Pak Setiawan Subekti, pakar kopi yang banyak menshare ilmu pengetahuan dan pemahaman luar biasa mengenai kopi kepada kami dengan jelas. Walau disini kami berombongan banyak blogger, namun Pak Iwan, panggilan beliau tetap dengan senang hati membantu menshare ilmunya kepada kami dengan gamblang, bahkan beliau pun tak ragu memperkenalkan kepada kami tak hanya informasi namun kopi yang diseduh oleh beliau sendiri. Acara di tempat beliau ini juga dihadiri oleh kepala dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi.

Perjalanan hari ini pun kami tutup dengan sambutan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang baru saja membuka pra soft opening tempat ngopi yang bernama Wedang Kopi Banyuwangi, yang lokasinya menyatu di ruang pamer hasil kerajinan lokal Kabupaten Banyuwangi.


TAGS Banyuwangi volcano wisata iwan subekti genjah arum padi kopi sangrai


-

Author

Fajarokto
Seorang guru, yang berusaha mempraktekkan ilmu dalam kehidupan.

Follow Me