Comparing the taste #banyuwangi

14 Jan 2014

Kemiren beat the Starbucks

Kemiren beat the Starbucks

Tak banyak yang mengetahui kaidah dari ngunjuk kopi sebenarnya sampai kita bisa benar benar mengalami dan paham terhadap apa yang kita nikmati tersebut. Adalah Bapak Setiawan Subekti, yang telah membuka lebar jendela mata baik hati maupun lidah untuk memahami arti dari semua yang saya nikmati sebelum saya maju kedepan kelas untuk menshare ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup saya kepada anak2u.

Processing The Coffee

Processing The Coffee

Menutup perjalanan dihari pertama dblogger plesir nang Banyuwangi kami akhiri lokasi yang banyak menghadirkan kopi sebagai sesuatu yang sangat dihormati, tak hanya penyajian dan menikmatinya, namun mulai kopi yang berasal dari petani, pemrosessan yang meliputi sangrai, penumbukan, hingga penyimpanan kopi, sehingga semua ini akan mengoptimalkan proses menikmati kopi, mulai dari prosedur seduh hingga pemahaman menikmati kopi yang lebih mendalam dan bermakna dari setiap proses penyajian dan menikmatinya.

Comparing The Taste

Comparing The Taste

Perjalanan kopi knowledge ini kami awali saat tiba didesa oesing, yaitu salah satu suku yang berada di Banyuwangi yang mana mereka mempunyai adat yang sama sekali berbeda dan unik. Rumah tradisional yang mereka tinggali adalah rumah khas adat yang bangunannya tidak melekat ke bumi. Rumah adat ini mempunyai beberapa macam yang dibedakan dari sudut atapnya. Disebut Tikel bila mempunyai 4 sudut, crogcogan bila punya 2sudut, baresan jika mempunyai 3 sudut. Kayu yang digunakan dirumah ini adalah kayu Bendo dan Tanjang yang diyakini dan telah terbukti mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk melewati lebih dari 4 generasi, karena memang rumah2 adat didesa oesing banyak yang sudah berusia 200 tahunan dan masih berdiri kokoh dan megah.

Dirumah adat oesing kami diguide oleh para pria dari Paguyuban Tulik Kemiren. Mas Tuki teman dari paguyuban ini mengguide dengan tekun tentang pemrosessan kopi, mulai dari biji yang telah terjemur kering dan telah dipilih sama ukurannya, kemudian disangrai setiap 600gramnya agar menghasilkan gorengan biji kopi yang merata kematangannya. Bagaiman menghandle atau menangani biji kopi yang sudah matang adalah hal yang sangat dicermati oleh para pembuat penduduk desa oesing ini. Tentang biji yang harus didinginkan terlebih dahulu sebelum ditumbuk, atau bagaimana menghandle biji yang sudah disangrai namun belum akan ditumbuk, supaya rasa yang dihasilkan oleh kopi yang dimasak tidak menurun atau hilang kenikmatannya.

Dalam perjalanan kopi sore ini kami juga dipahamkan oleh mas Heidi atau Adi, mas Adi menshare pengetahuannya tentang penyajian kopi yang baik dari apa yang dihasilkan oleh proses sangrai yang dilakukan di rumah oesing ini. “untuk menyajikan segelas kopi yang nikmat dan optimal dirasa, cukup dengan 6gram atau sesendok makan kopi saja, sementara air yang baik untuk menyajikan kopi ini adalah air mendidih yang telah didiamkan selama 30 detik dari titik didihnya yaitu antara 90an derajat celcius” itu kata mas Adi. “jika penyajian telah dilakukan dengan baik, pastinya kopi akan keluar busa” ujarnya pula.

Jejak Rasa

Jejak Rasa

Kopi produksi rumah oesing ini dinamai Jaran Goyang, nama ini terinspirasi oleh lelaki yang mau memikat wanita, “ada aji aji sekali seduh terpikat” begitu kata mas Adi.

Dirumah adat yang pernah dikunjungi oleh menteri BUMN ini kami menyaksikan dan menguak banyak hal menarik tentang bagaimana menghormati minum kopi sebagai suatu hal yang luar biasa dihormati. Dimana setiap nyawa dari biji kopi yang dikorbankan untuk kita nikmati benar2 memiliki makna, tidak hanya dari kenikmatan kopi yang biasa kita nikmati saat menemani kita terjaga pada setiap kegiatan pekerjaan kita.

Perjalanan pemahaman kopi berlanjut setelah rombongan blogger dan saya menunaikan sholat Magrib didesa tersebut dan menuju Sanggar Genja Arum, kediaman Bapak Setiawan Subekti. Bapak dua orang puteri ini lebih mendalam lagi menshare ilmu dan pemahaman kopi yang selama ini saya merasa sudah sangat dalam mengetahuinya.

Pak Iwan, sapaan beliau sangat menyambut ramah kedatangan kami di tempat indahnya. Dengan diiringi tabuhan alat penumbuk padi, kami sangat menikmati nuansa etnik namun berkharisma seni sangat mendalam di kediaman beliau. Pak Iwan menshare pengetauannya didunia kopi dengan sangat luar biasa. Semua yang dilakukan oleh para penduduk desa Kemiren untuk melakukan proses pengolahan kopi yang kami kunjungi sore hari tadi merupakan buah pikiran Bapak yang semua putrinya telah berprofesi sebagai dokter ini.

Setiap kopi mempunyai kekhasan masing masing. Kekhasan disini tidak dapat kita paksakan untuk dapat dirasakan didaerah lain, itu yang beliau berusaha jelaskan kekami. Namun apa yang bisa kita nikmati, nikmatilah dengan sebaikbaiknya., tentang bagaiman seharusnya biji kopi dihanding, pemilihan yang baik, penjemuran yang baik, proses sangrai yang baik akan menghasilkan kematangan biji yang baik. Kopi yang baik tak harus hitam, tak harus pahit. Kopi yang baik bahkan tak akan berasa pahit itu kata beliau. Namun akan meninggalkan sesuatu yang disebut sebagai “Jejak Rasa” dimana setiap jejak rasa kopi disatu daerah ke daerah lain akan sama sekali berbeda.

Bila selama ini After Taste adalah istilah yang sangat dkenal dikalangan pencinta kopi internasional dan nasional namun istilah Pak Iwan “Jejak Rasa” agaknya sangat memberi aura tersendiri bagi kenikmatan kopi yang disajikan langsung oleh tangan beliau kepada saya..

Sejurus tulisan ini kubuat saat aku melempar pernyataan tentang bagaimana seduhan Americano Coffee Starbucks mampu membangkitkan semangat mengajarku di sekolah setiap paginya.

Namun dengan secangkir kopi yang disajikan oleh Bapak yang puterinya menjadi dokter di Afrika dan Amerika ini sangat mengukir dalam tak hanya dalam bibir dan mulut saya, namun jauh ke dalam hati, bahwa suatu saat disaat yang tak lama aku akan kembali ke Banyuwangi untuk mencari jejak rasa yang pernah kualami di kota bernuansa kental adat dan keindahan alam ini. Dan aku dan rombongan dblogger pun meninggalkan kediaman Pak Iwan setelah aku menunaikan sholat Isya di musholla beliau..


TAGS oesing using desa BWI travel blogger dblogger fajarokto fajar oktobriarto okto kopi coffee americano jejak rasa after taste


-

Author

Fajarokto
Seorang guru, yang berusaha mempraktekkan ilmu dalam kehidupan.

Follow Me